Dinamika Cinta Part 1

Bogor 2007, hari itu saya dipilih menjadi anggota pemira rektor ipb. Saya mengenalnya waktu pemilihan raya itu. Di ruang rektor lantai 6 saya pertama kali melihat sosoknya. Ah, mungkin setelah itu tak tau ada apa. Tak lama, entah berapa bulan, kenapa tiba-tiba saya suka dengan orang ini. Sampai saya menulis sebuah tulisan yang berjudul, “cinta bersemi sesama aktivis” untuk menjawab pertanyaan dari korwat waktu itu. Kendati pun saya suka dengan beliau saya tidak pernah bilang kepadanya.

Waktu berlalu. Saya lupa rasa suka ku kepadanya. Biasalah laki laki. Matanya lebih dahulu dari rasanya. aku ingin punya usaha. Aku ajak dia. Ya tidak berhasil ternyata. Kami harus memililih antara bisnis atau aktivis. Kami memilih menuntaskan aktivitas. Tidak lama kami dipertemukan lagi di organisasi tertinggi kemahasiswaan kampus. Saya ingat malam itu kami lah yang memutuskan untuk lanjut setelah dilema panjang itu.

Tiba tiba rasa suka ini muncul kembali. Pada orang yang sama. Ah, saya memang hobi bermain. Saya sempat main ke keluarganya, sekedar ingin tahu dan pas hanya beda kecamatan saja, kecamatan tetangga di cirebon. Kalau tidak salah hari itu lebaran.

Sore itu setalah bertemu dengan dia dan keluarganya, saya putuskan untuk memilihnya. Saya hubungi teman sekamarnya dan saya sampaikan maksud saya. Dalam perjalanan waktu saya sempat goyah, ada sosok sosok lain yang terus masuk ke dalam pikiran. Ah, pertanyaan tentang keseriusan kembali membulatkan tekad saya.

Dalam hal waktu itu, saya menanyakan banyak hal via perantara itu. Yang saya tanyakan pada saat itu sederhana, tentang orientasinya terhadap masa depan. Ya, antara pekerjaan dan rumah tangga. Sedari awal saya ingin istriku adalah ibu rumah tangga yang baik. Kuliahnya? Hasil pendidikan orang kuliahan harusnya beda dengan anak lulusan SMA. Profesi maksimal adalah guru atau wirausaha sendiri.

Masalah lain yang saya tanyakan adalah masalah poligami. Menurut saya masalah ini krusial dan sangat penting. Jawaban yang saya inginkan adalah menerima walau tidak tentu dilakukan. Ah syukurlah jawabanya sesuai. Usut punya usut ternyata beliau baru saja menerima materi tersebut di ma’had.

Deal. Saya setuju untuk memilih dia.

@wdinawan

Mengapa Kisah Nabi Musa Paling Banyak Dalam Al-Quran

Saat diskusi dengan Akhuna @nf_rom, beliau melemparkan sebuah pertanyaan menarik. Pertanyaannya adalah “mengapa dalam Al-Quran, kisah yang terbanyak adalah kisah nabi musa?” Menarik, karena kami sama-sama berpandangan bahwa setiap penulisan dalam Al-Quran itu memiliki maksud dan tujuan yang khusus. Namun, pertanyaan itu kemudian saya kembangkan menjadi, “kenapa sebagian besar sejarah dalam Al-Quran itu berkaitan dengan Bani Israil?” Kita bisa lihat bahwa kisah Bani Israil itu lengkap yakni terbentuknya yakni kisah Nabi Ya’qub as (Jacob dalam Kristen), masa kejayaan pertama pada Nabi Yusuf (Yosep), masa paling hina pada masa Nabi Musa (Moses), berjaya penuh pada masa Nabi Sulaiman (Salomon) dan masa-masa lainnya seperti masa Nabi Daud (David).

Masa yang paling menarik bagi sejarah Bani Israil menurut saya adalah masa Nabi Yusuf, Musa, dan Sulaiman. Kalau kita menyaksikan film-film dan analisis tentang Illuminaty dan New World Order sampai dengan Dajjal, semua menjadi terkait. Ah, jawaban dari pertanyaan mengapa kisah Bani Israil dan lebih spesifik pada kisah Nabi Musa as banyak tercantum dalam Al-Quran adalah karena kisah ini adalah kisah yang “sama” yang dihadapi manusia pada akhir zaman.

Kita mulai dari zaman Nabi Yusuf as. Kisah ada dalam satu surat saja dan urut dari ayat pertama sampai teraikhir. Kisah ini adalah kisah terbaik yang pernah ada di bumi. Bani Israil telah menunjukkan wataknya yakni kekuatan dan kekuasaan. Bahwa 10 Saudara Yusuf membenci Yusuf karena mereka merasa anak-anak yang kuat satu sama lain, sedangkan Yusuf adalah seorang yang lemah secara fisik (dalam hal kekuatan otot jasad). Buktinya adalah bahwa Yusuf dijual murah sebagai budak sementara ketika meminta jabatan, Yusuf adalah Hafidzun Alim. Jadi memang sejak awal, bangsa Israil adalah bangsa yang kuat. Namun, ada kelemahannya yakni mudah dengki hingga menyingkirkan Yusuf. Akhir kisah, Yusuf memaafkan dan Bani Israil memiliki tempat yang tinggi di Mesir.

Beralih kepada kisah Nabi Musa as. Kisahnya adalah kisah paling panjang dan terpencar-pencar dalam Al-Quran. Namun, kita tarik garis besarnya dalam sejarah Nabi Musa. Israil berada dalam posisi yang sangat hina, dijadikan Budak pada masa Fir’aun (Ramses II). Menariknya, bahwa Fir’aun percaya dengan ramalan bahwa ada anak laki-laki yang akan menggulingkannya. Ini poin penting yang harus kita pelajari bersama-sama. Musa berhadapan dengan paling tidak 4 kekuatan besar pada saat itu Yakni Fir’aun (Kekuasaan), Qorun (Kekayaan), Hamman (Intelektual), dan Bani Israil sendiri (Internal).

Fir’aun adalah kaum Pagan, ia membuat Piramida untuk melihat tuhan Musa. Disekelilingnya adalah para penyihir-penyihir. Kembali, Fir’aun mempercayai ramalan yang akan datang. Fir’aun mengaku sebagai tuhan, obsesiny sebagai tuhan. Menurut informasi, katanya mereka melakukan incest (pernikahan sedarah). Dengan kata lain, ada keturunan Fir’aun. Pertanyaan menarik, apakah seluruh pengikut Fir’aun mati di Laut Merah? Saya kira tidak. Masih ada pengikut dan keturunannya di Mesir. Bukti sejarahnya adalah Piramida dan catatan-catatan sejarahnya tidak pernah terhapus bahkan tidak pernah sekali pun hilang atau ditemukan kembali. Bahkan, film-film selalu mencari tahu apa yang ada dalam piramida seperti film scorpion king. Berbeda dengan Borobudur yang pernah hilang yang artinya kebudayaannya pernah ditinggalkan.

Lanjut kepada Nabi Sulaiman. Masa ini adalah masa Bani Israil berkuasa penuh. Martabatnya luar biasa besar. Lahan kekuasaannya adalah di Palestina, bukan di Mesir. Tidak banyak yang ingin saya jelaskan mengenai Nabi Sulaiman kecuali inilah masa terbaik yang pernah dirasakan oleh Bani Israil.

Mari kita pelajari masa kita hari ini. Kita berada pada masa seperti Nabi Musa as dimana ummat Islam itu seperti budak, di bawah dan dihinakan. Pun, kita menghadapi 4 kekuatan yang dihadapi juga oleh Nabi Musa as yakni kekuatan Kekuasaan yang didalangi oleh Amerika Serikat, Kekuatan Finansial yang dicetuskan oleh Negara yang sama beserta sekutunya, Kekuatan Intelektual yang lagi-lagi ada Amerika dan sekutunya dan factor kelemahan internal kita umat Islam.

Ah, ada yang menarik, dari semua kekuatan tadi, terselip sebuah rahasia kekuatan tadi yakni kembalinya masa Fir’aun yang bermarkas di Amerika Serikat. Ada kesamaan antara Amerika Serikat dan pengikutnya yakni mereka sama-sama kaum pagan dan mempercayai adanya ramalan yang akan datang. Buktinya adalah simbol pagan yang banyak beredar di dunia seperti simbol piramida, dewa ra, baphomet, dan lain sebagainya. Oh iya, Amerika ini bukanlah keturunan Bani Israil atau Israel. Kaum pagan kemudian menumpang nama dengan Israil untuk maksud dan tujuan tertentu. Oleh karena itu ada sebuah perkataan dari kalangan orang-orang Israel yaitu “Kami Yahudi Israel tapi kami bukan Zionis.” Artinya Zionis dan Israel adalah komunitas yang berbeda. Sementara Amerika Serikat adalah pendukung utama Zionisme.

Tujuan utama mereka menumpangi sejarah Israel adalah untuk kepentingan sebuah ramalan yang ummat Islam, Kristen, Yahudi, dan Pagan ini sama-sama percaya yakni munculnya Al-Masih Ad-Dajjal. bedanya dengan masa Fir’aun adalah bahwa masa Fir’aun kedatangan musuh yakni Musa as sehingga ia persiapkan dengan baik dengan membunuh semua anak laki-laki, sedangkan masa kini adalah sedang disiapkan Nabi bagi mereka yakni Dajjal. Sama, mereka memiliki kepercayaan yang sama terhadap ramalan.

Sejarah Israil kemudian digunakan untuk mewujudkan ambisinya bahwa masa kejayaan Israel ada di Palestina yang disana terdapat Tabut dan juga merupakan kerajaan Nabi Sulaiman. Sehingga sangat wajar jika pada penyambutan Dajjal menggunakan Salomon Tample atau Kuil Sulaiman yang telah dijelaskan di muka bahwa Sulaiman adalah masa terbaik bagi Israel. Selain itu, tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan yakni tanah Kanaan.

Sihir-sihir dan tipu daya kaum pagan ini juga berkembang dari mulai industry music, pornografi, sex bebas, alcohol, narkotika, dan macam-macam tipu daya lainnya. Mereka menipu kita dengan kesenangan neraka. Mirip dengan kedatangan Dajjal yang membawa roti neraka dan api surga.

Dari bahasan diatas dapat disimpulkan bahwa kita sedang menghadapi musuh yang sama dengan Musa as yakni bangsa penyihir dan penyembah benda yang memiliki kekuatan kekuasaan, kekayaan, dan intelektual. Mungkin, inilah hikmah dari pertanyaan “Mengapa Kisah Nabi Musa as paling banyak terdapat dalam Al-Quran?”

@wdinawan

Dermaga

Hanya Kapal-kapal besar yang singgah pada dermaga-dermaga. Kapal-kapal kecil bisa singgah dimana pun ia berada, jika ia mau, ia bisa bersandar. Itulah letak perbedaan kapal besar dan kapal kecil. Jika kapal adalah hidup (manusia) dan dermaga adalah tujuan, hidup yang besar memiliki tujuan yang jelas, dermaga kota a, b, dan lain sebagainya. Sementara orang yang hidupnya kecul, ia tidak memiliki tujuan yang jelas, dimana pun ia melihat sesuatu yang bisa menjadi tujuan, ia akan menuju hal tersebut.

Kota-kota yang memiliki dermaga yang besar, memiliki peradaban yang lebih maju. Orang-orang kota tersebut membangun semegah-megahnya dermaga untuk pusat-pusat perdagangan, membangun ekonomi dan peradaban mereka. Tidak perlu jauh-jauh, Jakarta dan Surabaya menjadi tempat terbaik untuk dijadikan contoh bagaimana dermaga bekerja.

Jika kita pernah naik pesawat dari luar Jakarta menuju Jakarta, kita bisa melihat bagaimana antrean kapal-kapal untuk berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok. Jika diperhatikan, hampir semuanya membawa peti kemas yang entah berapa ratus ton. Artinya, setiap kapal yang merapat ke dermaga, harus memiliki muatan yang sesui dengan karakteristik dermaga. Atau kapal tersebut harus mengambil muatan untuk dibawa ke dermaga yang lain. Setiap kali kapal berlabuh di dermaga, maka ia akan kembali untuk berlabuh pada dermaga yang lain.

Oh iya, ternyata, untuk membuat dermaga, ada karakteristik yang diperlukan. Kondisi coast pada dermaga itu unik, dangkal, kemudian tiba-tiba menjadi dalam. Kedalaman pada masing-masing dermaga berbeda-beda. Yang menentukan karakteristik kedalaman dermaga adalah beban muatan kapal. Jika kapal hanya tenggelam 10 meter, paling tidak kedalaman harus lebih dari 10 meter. Bagaimana dengan kapal yang bagian tenggelamnya sampai dengan 20 meter? Tentunya lebih dari itu.

Bagaimana jika kedalaman dermaga tidak mencukupi? Kapal akan menabrak batu-batu karang di bawah laut. Jika hanya lecet, beruntunglah kapal tersebut, bagimana jika lambung kapal menjadi bocor? Tentu kapal akan menjadi karam.

Bagaimana jika kapal-kapal kecil masuk dalam dermaga? Tentu tinggi dermaga lebih tinggi dari pada kapal. Mengapa? Dermaga sudah di desain, kapal dengan kapasitas sekian akan memiliki tinggi pintu sekian. Maka, awak kapal maupun barangnya sulit untuk memasuki dermaga.

Kembali pada bagian awal, bahwa kapal adalah hidup sedangkan dermaga adalah tujuan. Bahwa ketika hidup harus menentukan tujuan, maka kita harus tahu karakteristik tujuan hidup kita. Jika kita menginginkan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia, maka, perbesar kapal sebab dermaganya pasti dalam dan tinggi. Jika kita hanya ingin menjadi manusia biasa, tidak perlu dermaga tinggi dan dalam, hanya dermaga pendek dan dangkal, atau bahkan tidak butuh dermaga.

Sayangnya, hidup tidak hanya memiliki satu tujuan. Maka, pada setiap tujuan kita harus memiliki karakter yang memenuhi tujuan tersebut. Ada pertanyaan menarik, “jika kita telah memiliki kapal yang besar, bagaimana kalau kita ingin bersandar pada dermaga kecil, dangkal, dan pendek?” Ah, kapal besar selalu memiliki skoci. Benar kan? Ya, gampang saja, keluarkan saja skoci, dayung, dang kita akan sampai tujuan dermaga kecil, dangkal, dan pendek.

Apa artinya? Jika kita telah memiliki kapal yang besar, maka dermaga-dermaga besar bisa kita masuki, juga dengan dermaga-dermaga kecil, dengan skoci-skoci. Jika kita telah menjadi orang besar, kita bisa mendapat tujuan-tujuan besar, juga tujuan-tujuan kecil.

Jika kita hanya menjadi orang yang kecil, kita akan sulit untuk mencapai tujuan-tujuan besar. Kita hanya bisa mencapai tujuan-tujuan yang kecil. Akan sangat sulit jika kita memaksakan untuk mendapat tujuan-tujuan yang besar.

Lantas, bagaimana jika kita memiliki kapal yang kecil namun ingin mencapai dermaga yang besar? Sederhana saja, buat kapal kita menjadi besar. Caranya? Ah, banyak cara, entah menabung, meminjam uang, mencari kayu, atau mencari baja yang lebih banyak. Keras? Memang. Untuk mendapat hal-hal besar butuh kerja keras, bahkan kerja cerdas.

Pelayar sejati, para pengarung samudra, tidak hanya ingin berlayar menuju satu dermaga, kota. Tidak. Mereka ingin berlayar keliling dunia, menuju dermaga-dermaga di seluruh dunia. Orang-orang hebat, tidak hanya memiliki 1 tujuan, tetapi memiliki tujuan yang banyak.

Bagaimana dengan dermaga mu dan istrimu?

Nikah

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan mengharap ridho Allah, dalam rangka taat kepada-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya

Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengundang teman-teman untuk menghadiri pernikahan kami,

Nurina Rachma Adiningsih (FATETA IPB 2007)
dengan
Wawan Dinawan (FEM IPB 2007)

yang Insya Allah akan diselenggarakan pada :

Akad Nikah
Hari : Sabtu, 29 Juni 2013
Pukul : 08.00 WIB
Tempat : Jl. Kepodang III no.12 Kuncen RT 07 RW 0I
Ungaran, Kab. Semarang, Jawa Tengah

Walimatul ‘Ursy
Hari : Sabtu, 29 Juni 2013
Pukul : 11.00-13.00 WIB
Tempat : Wisma Yudhabakti – Batalyon Zeni Tempur 4 Kebon Polo
Jl. Gatot Subroto Ungaran, Kab. Semarang, Jawa tengahn

Merupakan suatu kehormatan & kebahagiaan bagi kami bila rekan-rekan  berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kami.

” Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau,………” (QS. Al-Baqarah: 128)

menuju rumah: Bus Arah Yogya atau Solo (via jalur Pantai Utara) turun di Ungaran,
Per-empatan lampu merah pertama Ungaran belok kiri, ± 500m belok kiri masuk ke Jl. Kepodang, ± 50 m bekol kiri menuju Jl, Kepodang III/12 Ungaran Rumah a.n Bpk Santoso/ Ibu Ilah

tempat WU: Bus Arah Yogya atau Solo (via jalur Pantai Utara) turun di Ungaran, turun di Wisma Yudhabakti- Batalyon Zipur 4 Kebon Polo, Jalan Gatot Subroto Ungaran, (kiri jalan ±500 m dari batas kota Selamat datang di Kab. Semarang)

Rute Kereta: dari Stasiun Tawang/Poncol Semarang, naik mini bus jurusan Ambarawa/Salatiga/Bandungan yg via Ungaran, tempat turun sda atau menggunakan taksi ± 75ribu dg tempat turun sda